JAKARTA - Industri manufaktur di Indonesia terus menunjukkan kinerja gemilang, menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor ini tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata ekonomi secara keseluruhan. Kekuatan manufaktur tercermin dari kontribusi PDB dan investasi yang signifikan sepanjang 2025.
Pertumbuhan Manufaktur yang Konsisten
Industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan 5,17 persen selama Triwulan I–III 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,01 persen. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi motor utama perekonomian.
Nilai tambah sektor ini meningkat dari Rp1.783,17 triliun pada 2024 menjadi Rp1.875,33 triliun pada periode yang sama tahun berikutnya. Kinerja ini menunjukkan daya tahan industri di tengah fluktuasi ekonomi global. Hal ini memperkuat posisi manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB juga tergolong besar. Sepanjang Triwulan I–III 2025, sektor ini menyumbang 17,27 persen atau Rp3.051,58 triliun terhadap PDB nasional. Angka ini menegaskan peran strategis manufaktur dalam menjaga stabilitas ekonomi negara.
Investasi dan Kepercayaan Pelaku Usaha
Sektor manufaktur mencatat realisasi investasi Rp552,0 triliun atau 38,49 persen dari total investasi nasional Rp1.434,3 triliun. Tingginya kontribusi investasi menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek industri ini. Hal tersebut menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2025 berada di level 51,90, menunjukkan fase ekspansi meskipun sedikit melambat. Sementara itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur berada di angka 51,2. Keduanya memperlihatkan aktivitas manufaktur masih bertumbuh dan optimistis menghadapi tahun depan.
Kepercayaan pelaku usaha yang terjaga juga tercermin dari rencana ekspansi produksi. Kapasitas baru yang mulai beroperasi akan menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Hal ini mendukung keberlanjutan sektor manufaktur dalam menghadapi tantangan global.
Kapasitas Produksi Baru dan Lapangan Kerja
Tahun 2026 menjadi periode penting bagi sektor manufaktur dengan 1.236 perusahaan melaporkan tahap pembangunan pada 2025. Produksi perdana perusahaan-perusahaan ini direncanakan berjalan pada 2026. Proyek tersebut akan menyerap 218.892 tenaga kerja, memperkuat struktur industri, serta menjaga pasokan barang nasional.
Investasi sektor pengolahan nonmigas untuk kapasitas produksi baru diperkirakan mencapai Rp551,88 triliun. Dari jumlah ini, Rp444,25 triliun merupakan investasi di luar tanah dan bangunan. Realisasi investasi tersebut mencerminkan optimisme dan keseriusan pelaku industri dalam pengembangan manufaktur nasional.
Kapasitas produksi baru juga menjadi faktor strategis dalam mendukung stabilitas rantai pasokan. Dengan tambahan fasilitas produksi, industri mampu memenuhi permintaan pasar domestik dan ekspor. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Kebijakan dan Strategi Industri 2026
Kebijakan manufaktur pada 2026 difokuskan untuk memperkuat nilai tambah di dalam negeri. Pendalaman struktur industri dan optimalisasi keterkaitan antarsektor menjadi prioritas utama pemerintah. Strategi ini memastikan sektor manufaktur lebih berdaya saing dan tangguh menghadapi tantangan ekonomi.
Transformasi industri 4.0 dan penguatan industri hulu hingga hilir menjadi bagian dari langkah pemerintah. Percepatan industrialisasi dan efisiensi rantai produksi menjadi fokus utama. Hal ini diharapkan meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperluas kapasitas manufaktur nasional.
Penguatan struktur industri juga mendukung penciptaan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan investasi. Kombinasi strategi ini menjadikan manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi yang berkelanjutan. Dengan arah kebijakan yang jelas, industri siap menghadapi dinamika global tanpa kehilangan momentum.
Permintaan Domestik dan Ekspor yang Seimbang
Pertumbuhan industri manufaktur masih didukung pasar domestik sekitar 80 persen. Sisanya, sekitar 20 persen, berasal dari ekspor. Proporsi ini mencerminkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan posisi Indonesia di pasar global.
Permintaan domestik yang kuat menjadi landasan stabilitas produksi manufaktur. Sementara itu, ekspor mendorong peningkatan kapasitas produksi dan membuka peluang pasar baru. Keseimbangan ini memastikan industri manufaktur tetap tangguh dan mampu berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Optimisme sektor manufaktur tercermin dari indikator pertumbuhan, investasi, dan rencana produksi baru. Kombinasi faktor tersebut memastikan industri ini tetap menjadi motor utama ekonomi. Dengan dukungan kebijakan dan inovasi, manufaktur siap menghadapi 2026 dengan kinerja yang lebih solid.