JAKARTA - Harga batu bara melonjak tajam dan mencatat level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Kenaikan ini terjadi setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global dan mendorong lonjakan harga komoditas.
Kontrak batu bara April pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, ditutup di posisi US$ 128,7 per ton atau naik 10%. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 18 Desember 2024 atau sekitar satu tahun dua bulan terakhir. Kenaikan ini sekaligus memutus tren negatif setelah batu bara sempat melemah dalam enam dari tujuh hari perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga terjadi di tengah memanasnya konflik Iran yang berdampak pada sektor energi. Perang tersebut menyebabkan harga minyak melonjak signifikan. Pasar energi global bereaksi cepat terhadap potensi gangguan pasokan.
Dampak Penutupan Jalur Energi Strategis
Konflik membuat jalur perdagangan utama minyak dan gas dunia, yakni Selat Hormuz, ditutup. Penutupan ini mendorong harga minyak naik lebih dari 7% pada Senin, sementara harga gas Eropa terbang hingga 50%. Kondisi tersebut memicu kepanikan pasar dan kekhawatiran akan krisis pasokan energi global.
Akibat gangguan tersebut, banyak negara mulai mengalihkan sumber energi ke batu bara. Permintaan batu bara meningkat tajam sebagai alternatif yang tersedia cepat. Peralihan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga batu bara terbang tinggi.
Lonjakan harga energi global mencerminkan sensitivitas pasar terhadap konflik geopolitik. Setiap gangguan pasokan langsung memicu lonjakan harga komoditas energi. Batu bara pun kembali menjadi pilihan strategis dalam menjaga ketahanan energi.
Perkembangan China dan Ajang Two Sessions
Selain faktor perang, perkembangan di China turut memanaskan harga batu bara. Produsen dan konsumen batu bara di China terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Beijing memprioritaskan keamanan energi dan keandalan jaringan listrik nasional.
Investor juga menunggu sinyal dari pertemuan parlemen tahunan China untuk panduan prospek permintaan. Ajang tahunan “Two Sessions” berlangsung mulai 4 Maret hingga sekitar 11 Maret. Dalam forum tersebut, otoritas diperkirakan merilis Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026-2030.
Rencana tersebut akan menguraikan target serta arah kebijakan pembangunan nasional China. Kebijakan ini dinilai penting bagi proyeksi permintaan batu bara global. Setiap keputusan Beijing berpotensi memengaruhi pasar komoditas dunia.
Langkah Amerika Serikat dan Kenaikan Produksi India
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump bergerak memperkuat sektor pembangkit listrik tenaga batu bara. Pemerintah mengalokasikan dana federal sebesar US$175 juta untuk memodernisasi enam pembangkit listrik. Ia juga menginstruksikan Departemen Pertahanan AS membeli listrik dari fasilitas tambahan guna mendukung industri tersebut.
Dari India, produksi batu bara pada Februari mencatat kenaikan 18,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi dari tambang captive dan komersial meningkat menjadi 20,49 juta ton, sementara realisasi pengiriman mencapai 17,72 juta ton. Pertumbuhan tahunan yang kuat ini mencerminkan momentum operasional yang berkelanjutan serta peningkatan aktivitas pertambangan secara progresif di seluruh sektor.
Untuk tahun fiskal 2025/2026 hingga Februari, produksi kumulatif batu bara dari tambang tersebut tumbuh 11,58% secara tahunan. Pengiriman kumulatif juga meningkat 6,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspansi ini menunjukkan penguatan efisiensi operasional dan percepatan peningkatan kapasitas produksi.
Reformasi dan Ekspansi Sektor Batu Bara India
Ekspansi produksi India sejalan dengan reformasi sektor batu bara yang dilakukan pemerintah. India beralih dari model restriktif menuju pemberian blok tambang melalui proses lelang kompetitif. Negara tersebut juga mengizinkan penjualan komersial batu bara tanpa pembatasan penggunaan akhir tertentu.
Rezim berbasis lelang yang diperkenalkan pada 2014 membuka partisipasi sektor swasta meski awalnya terbatas untuk penggunaan captive. Pada 2020, sektor ini dibuka untuk penambangan batu bara komersial oleh pemain swasta. Kebijakan ini mendorong peningkatan produksi dan daya saing industri.
Lelang blok batu bara komersial dilakukan melalui proses penawaran daring dua tahap. Tahap pertama mencakup penyaringan teknis dan pengajuan penawaran harga awal kompetitif. Tahap kedua dan final mewajibkan peserta menyampaikan penawaran harga yang lebih baik untuk memenangkan blok tambang.
Secara keseluruhan, lonjakan harga batu bara mencerminkan dinamika kompleks pasar energi global. Faktor geopolitik, kebijakan nasional, serta pertumbuhan produksi di berbagai negara berkontribusi pada pergerakan harga. Batu bara kembali menegaskan perannya sebagai sumber energi strategis di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan harga 10% dalam sehari menjadi sinyal kuat bahwa pasar sangat responsif terhadap perkembangan geopolitik. Konflik Iran dan penutupan jalur energi utama meningkatkan kekhawatiran pasokan global. Kondisi ini mendorong investor dan negara-negara mencari alternatif energi yang lebih stabil.
Dengan permintaan yang meningkat dan dukungan kebijakan di sejumlah negara besar, harga batu bara berpotensi tetap volatil. Pasar akan terus mencermati perkembangan konflik, kebijakan China, serta reformasi di India dan Amerika Serikat. Dinamika ini menunjukkan bahwa batu bara masih menjadi komoditas penting dalam lanskap energi dunia.