Saham

Saham Perbankan Dominan Tekan IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

Saham Perbankan Dominan Tekan IHSG di Tengah Aksi Jual Asing
Saham Perbankan Dominan Tekan IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

JAKARTA - Tekanan jual investor asing kembali membayangi pergerakan pasar saham domestik. 

Indeks Harga Saham Gabungan bergerak melemah setelah sempat mencatatkan penguatan intraday. Kondisi ini menandai meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi ke bawah level psikologis penting. Pelemahan terjadi meski sempat menguat lebih dari satu persen di sesi awal. Arus dana asing yang keluar menjadi faktor utama penekan indeks.

Aktivitas jual asing tercatat cukup besar baik di pasar reguler maupun keseluruhan pasar. Kondisi ini mencerminkan perubahan sikap investor global terhadap aset berisiko. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual.

Pergerakan IHSG dan Arus Dana Asing

IHSG ditutup melemah 0,2 persen atau 18,15 poin ke level 8.992,18. Koreksi ini terjadi setelah indeks gagal mempertahankan penguatan di sesi pertama. Tekanan muncul seiring derasnya arus keluar dana asing.

Investor asing mencatatkan net sell Rp964,14 miliar di pasar reguler. Di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp1,33 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan yang cukup signifikan.

Dalam sepekan, arus keluar dana asing juga masih berlanjut. Net sell asing tercatat Rp848,15 miliar di pasar reguler. Sementara di seluruh pasar, nilainya mencapai Rp564,54 miliar.

Saham Perbankan Jadi Sasaran Utama

Tekanan jual paling besar terjadi pada saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham Bank Central Asia menjadi yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai jual bersihnya mencapai sekitar Rp883,2 miliar.

Di posisi berikutnya, aksi jual juga tercatat pada Bank Mandiri. Saham BMRI dilepas dengan nilai jual bersih sekitar Rp207,5 miliar. Tekanan ini memperlihatkan fokus investor asing pada saham likuid.

Saham Aneka Tambang turut masuk daftar tekanan jual. Nilai jual bersih ANTM tercatat sekitar Rp127,1 miliar. Kondisi ini menunjukkan pelemahan juga menyasar sektor komoditas.

Saham perbankan besar lainnya ikut terdampak. Bank Negara Indonesia mencatatkan jual bersih sekitar Rp104,2 miliar. Bank Rakyat Indonesia juga dilepas dengan nilai sekitar Rp103,1 miliar.

Sektor Lain Ikut Tertekan Aksi Jual

Selain perbankan, tekanan jual asing juga menyasar sektor non-keuangan. Saham Archi Indonesia tercatat dilepas dengan nilai cukup besar. Aksi serupa juga terjadi pada saham properti dan energi.

Saham Bukit Uluwatu Villa masuk dalam daftar saham yang dilepas. Nilai jual bersihnya berada di kisaran puluhan miliar rupiah. Saham Barito Pacific juga mengalami tekanan sejenis.

Lippo Karawaci turut menjadi sasaran aksi jual asing. Nilai jual bersihnya tercatat berkisar antara Rp55 miliar hingga Rp67 miliar. Petrosea juga mengalami tekanan pada rentang nilai yang sama.

Tekanan lintas sektor ini mencerminkan sikap defensif investor asing. Pelepasan saham dilakukan pada emiten yang relatif likuid. Tujuannya untuk menjaga fleksibilitas portofolio di tengah volatilitas.

Sentimen Global Dorong Sikap Risk-Off

Derasnya tekanan jual asing tidak terjadi tanpa sebab. Pasar global sedang berada dalam fase risk-off. Ketidakpastian meningkat baik dari faktor eksternal maupun domestik.

Investor asing cenderung mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi besar. Saham-saham tersebut selama ini menjadi penopang utama IHSG. Setiap aksi jual langsung berdampak signifikan pada indeks.

Kondisi ini membuat pergerakan IHSG menjadi lebih sensitif. Meskipun sempat menguat secara intraday, tekanan jual menekan indeks di akhir sesi. Pasar bergerak fluktuatif dalam rentang yang lebar.

Antisipasi Rebalancing Indeks Global

Pelaku pasar juga mulai memperhatikan agenda rebalancing indeks global. Pengumuman penyesuaian indeks diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat. Situasi ini mendorong investor menata portofolio lebih awal.

Ekspektasi perubahan bobot indeks memicu aksi jual preventif. Saham-saham dengan bobot besar menjadi sasaran utama. Likuiditas tinggi membuat saham tersebut lebih mudah dilepas.

Kekhawatiran terhadap pengetatan metodologi free float turut memengaruhi sentimen. Meski belum resmi, pasar bereaksi dengan menyesuaikan ekspektasi. Investor memilih bersikap lebih hati-hati.

Masuknya saham ke indeks global kini dipandang lebih kompleks. Faktor likuiditas dan struktur kepemilikan menjadi perhatian. Konsistensi transaksi juga menjadi penilaian penting.

Kondisi ini membuat pasar domestik menghadapi tekanan jangka pendek. Namun, dinamika tersebut juga membuka ruang penyesuaian harga. Investor domestik mulai mencermati peluang di tengah volatilitas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index