JAKARTA - Industri pengolahan Indonesia menunjukkan kinerja positif pada kuartal IV 2025.
Prompt Manufacturing Index (PMI) mencatat angka 51,86 persen, menandakan ekspansi yang stabil. Kenaikan ini menjadi indikasi kuat bahwa sektor manufaktur mampu mempertahankan momentum pertumbuhan.
Angka tersebut meningkat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 51,66 persen. Peningkatan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada berbagai komponen utama, termasuk Volume Produksi dan Volume Persediaan Barang Jadi. Total pesanan yang meningkat juga menjadi faktor penting dalam mendongkrak indeks manufaktur.
Kinerja ini menunjukkan daya tahan industri menghadapi tantangan ekonomi. Ekspansi terjadi hampir di semua subsektor utama, mencerminkan distribusi pertumbuhan yang merata. Tren positif ini memperkuat optimisme pelaku industri terhadap prospek jangka menengah.
Komponen Utama PMI dan Pendorong Ekspansi
Ekspansi manufaktur sebagian besar ditopang oleh Volume Produksi yang meningkat. Volume Persediaan Barang Jadi juga mencatat pertumbuhan, menandakan kesiapan pasar menghadapi permintaan. Volume Total Pesanan turut memperkuat momentum ekspansi sektor ini.
Sub-lapangan usaha (Sub-LU) tertentu menunjukkan performa yang menonjol. Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan, serta Reproduksi Media Rekaman mencatat indeks tertinggi. Selain itu, Industri Barang Galian Bukan Logam dan Industri Makanan dan Minuman juga berada pada fase ekspansi.
Kondisi ini selaras dengan survei kegiatan dunia usaha yang menunjukkan nilai Saldo Bersih Tertimbang positif. Kekuatan sektor manufaktur tercermin dari stabilitas produksi dan pesanan. Hal ini menjadi dasar optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Proyeksi Kinerja Kuartal I 2026
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan manufaktur terus meningkat pada kuartal I 2026. PMI-BI diperkirakan mencapai 53,17 persen, menandakan fase ekspansi yang lebih kuat. Pertumbuhan ini didukung oleh Volume Total Pesanan yang diperkirakan tetap tinggi.
Volume Produksi dan Persediaan Barang Jadi juga diprediksi meningkat, mendukung kinerja positif sektor manufaktur. Kecepatan penerimaan barang input menjadi indikator efisiensi rantai pasok yang terus membaik. Proyeksi ini menunjukkan sektor manufaktur mampu merespons permintaan pasar secara dinamis.
Mayoritas Sub-LU diperkirakan tetap berada dalam fase ekspansi. Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, serta Industri Furnitur menunjukkan pertumbuhan tertinggi. Industri Logam Dasar serta Makanan dan Minuman juga diproyeksikan mempertahankan kinerja positifnya.
Daya Saing Sub-Lapangan Usaha
Kinerja ekspansi yang merata di berbagai Sub-LU menandakan daya saing yang meningkat. Setiap subsektor menunjukkan kemampuan untuk mengelola produksi dan permintaan secara efektif. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
Industri Kulit dan Furnitur memanfaatkan inovasi produk untuk memperkuat posisi pasar. Industri Logam Dasar memaksimalkan efisiensi proses produksi. Sektor makanan dan minuman terus menyesuaikan diri dengan preferensi konsumen yang dinamis.
Konsistensi ekspansi di berbagai Sub-LU mencerminkan kesiapan sektor manufaktur menghadapi tantangan global. Fleksibilitas dan inovasi menjadi kunci untuk mempertahankan momentum. Pertumbuhan ini juga memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Implikasi Ekonomi dan Strategi Ke Depan
Pertumbuhan manufaktur yang stabil berdampak positif bagi ekonomi secara keseluruhan. Ekspansi sektor ini meningkatkan peluang lapangan kerja dan pendapatan nasional. Investor dan pelaku industri mendapat sinyal positif untuk memperluas produksi atau berinvestasi.
Kinerja sektor manufaktur yang ekspansif juga mendukung stabilitas rantai pasok. Produksi yang meningkat menambah persediaan barang siap jual. Dengan strategi yang tepat, industri manufaktur dapat terus berkembang dan bersaing di tingkat regional maupun global.
Bank Indonesia memandang tren ini sebagai momentum untuk memperkuat sektor industri pengolahan. Inovasi, efisiensi, dan kemampuan adaptasi menjadi kunci keberlanjutan. Ekspansi yang konsisten memberi optimisme bahwa manufaktur akan tetap menjadi motor penggerak ekonomi nasional.