JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengajak seluruh pemuda Indonesia, khususnya Gen Z, untuk berpikir secara global dalam menghadapi tantangan bangsa di masa depan.
Menurutnya, dunia saat ini dihadapkan pada berbagai masalah kompleks yang dikenal dengan istilah wicked problems, yaitu persoalan global yang saling terkait dan tidak dapat diselesaikan dengan cara biasa. Contohnya meliputi krisis iklim, ketimpangan ekonomi, revolusi digital, serta disrupsi nilai dan pekerjaan akibat kecerdasan buatan.
“Krisis yang ada memerlukan respons dengan ambisi besar agar Indonesia dapat menjadi negara maju,” ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto. Ia menekankan bahwa generasi muda harus dilatih untuk memahami kompleksitas dunia sejak dini agar dapat menemukan solusi kreatif dan strategis.
Mendorong Kemajuan Melalui Kepemimpinan Mahasiswa
Mendiktisaintek menyoroti kondisi manufaktur Indonesia yang stagnan dan ketergantungan pada negara lain sebagai penghambat daya saing nasional. Ia menekankan perlunya lompatan besar agar bangsa dapat keluar dari ketertinggalan dan menjadi kompetitif di kancah internasional.
Untuk mencapai hal tersebut, Kemdiktisaintek meluncurkan program Indonesia Future Leaders Camp (FLC). Program ini menargetkan para ketua atau pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta organisasi ekstra-kampus.
Tujuannya adalah membentuk calon pemimpin masa depan yang memahami wawasan global, mampu berpikir kritis, dan memiliki keterampilan kepemimpinan yang tangguh.
“FLC ini merupakan gagasan untuk menyiapkan generasi penerus bangsa agar memahami paradigma global sejak dini. Aktivitas organisasi dan kepemimpinan di kampus menjadi ruang belajar yang penting untuk membentuk pola pikir kompleks dan kemampuan multitasking,” jelas Mendiktisaintek.
Leadership dan Multitasking sebagai Kunci Sukses
Brian Yuliarto menekankan bahwa kepemimpinan yang baik membutuhkan kemampuan multitasking, yaitu mampu menangani banyak masalah secara bersamaan sambil tetap tenang dan fokus. Hal ini menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam berbagai bidang pekerjaan maupun kepemimpinan organisasi.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya generasi muda memiliki mimpi besar untuk bangsa.
“Tidak ada bangsa yang bisa menjadi besar tanpa didukung oleh ambisi dan tekad anak-anak mudanya. Jangan khawatir soal latar belakang Anda. Siapapun bisa mencapai itu, asalkan memiliki mimpi yang tinggi dan tekun mengejarnya,” ujarnya.
Melalui FLC, peserta dilatih untuk mengasah kapasitas kepemimpinan secara strategis. Pendekatan experiential learning memungkinkan mereka belajar melalui pengalaman langsung, sehingga mampu mengaplikasikan ilmu kepemimpinan dalam konteks nyata.
Pelaksanaan FLC di Seluruh Wilayah Indonesia
Program FLC diselenggarakan secara regional di seluruh Indonesia, dengan tujuan menjangkau generasi muda dari berbagai daerah. Kegiatan ini telah berjalan dari akhir Oktober hingga akhir November, mencakup lima wilayah utama:
Regional I: Jakarta, Jawa Barat, Banten
Regional II: Sumatera
Regional III: Sulawesi, Papua, Maluku
Regional IV: Jawa Tengah, Jawa Timur
Regional V: Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur
Setiap peserta FLC mendapat kesempatan untuk belajar kepemimpinan strategis, mengasah kemampuan komunikasi, dan berkolaborasi menyelesaikan masalah kompleks.
Program ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya memiliki ambisi tinggi, tetapi juga kompetensi nyata untuk menghadapi tantangan global.
Dengan langkah ini, Kemdiktisaintek mendorong Gen Z Indonesia agar siap bersaing di kancah internasional dan mampu mengatasi masalah bangsa dengan inovasi, kerja sama, dan pemikiran strategis. Pendidikan kepemimpinan yang komprehensif melalui FLC diharapkan menjadi fondasi kuat bagi masa depan Indonesia.