Jejak Karier Militer Try Sutrisno Sebelum Menjadi Wakil Presiden RI

Senin, 02 Maret 2026 | 11:34:57 WIB
Jejak Karier Militer Try Sutrisno Sebelum Menjadi Wakil Presiden RI

JAKARTA - Try Sutrisno mengawali kariernya di Angkatan Darat dengan menempuh pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat. 

Setelah lulus pada tahun 1959, ia langsung ditugaskan di Kodam IV/Sriwijaya sebagai Dan Ton Zipur. Penugasan ini menjadi langkah awal perjalanan panjangnya dalam dunia militer.

Keuletan dan dedikasinya menonjol sejak awal, sehingga karier Try terus menanjak. Ia dipercaya memegang berbagai posisi strategis di Angkatan Darat. Kepemimpinannya mulai terlihat saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Pengalaman dan prestasi ini membentuk dasar bagi kariernya di tingkat nasional. Try dikenal disiplin dan tegas dalam setiap tugas. Sikap ini menjadi modal penting bagi langkahnya selanjutnya ke posisi strategis di negara.

Puncak Karier Militer: Panglima TNI

Try Sutrisno menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1988 hingga 1993. Sebelumnya, ia menjadi Kepala Staf Angkatan Darat sejak 1986. Jabatan ini menempatkannya di pucuk komando militer nasional.

Di bawah kepemimpinannya, TNI menegaskan peran strategisnya dalam menjaga stabilitas nasional. Try juga dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan bawahannya. Hubungan ini membuat ia dihormati dalam lingkup militer maupun sipil.

Kepemimpinannya di militer mempersiapkan Try untuk mengemban tanggung jawab yang lebih luas. Pengalaman ini menjadi bekal saat ia masuk ke dunia politik. Kedisiplinan dan kemampuan koordinasinya terbukti krusial untuk peran yang lebih besar.

Perjalanan Politik: Wakil Presiden ke-6 RI

Pada 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto. Terpilih melalui Sidang Umum MPR, ia menjadi salah satu Wapres yang berasal dari kalangan militer. Jabatan ini menempatkannya di posisi strategis pemerintahan.

Sebagai Wapres, Try terlibat dalam berbagai kebijakan nasional. Ia dikenal mampu menjembatani kepentingan militer dan sipil. Perannya penting dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan selama masa jabatan.

Masa jabatannya berakhir pada 1998 dan digantikan BJ Habibie. Meski demikian, jejaknya tetap dikenang sebagai Wapres yang tegas dan berdedikasi. Pengalaman militernya memberikan perspektif unik dalam menjalankan tugas kenegaraan.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Try menikah dengan Tuti Sutiawati pada tahun 1961 dan dikaruniai tujuh anak, terdiri dari empat putra dan tiga putri. Keluarga menjadi sumber dukungan dalam perjalanan kariernya. Kehidupan pribadi yang harmonis turut memperkuat stabilitasnya sebagai pemimpin.

Kehidupan keluarga juga mencerminkan nilai disiplin dan tanggung jawab. Ia selalu menekankan pentingnya pendidikan dan etika bagi anak-anaknya. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip hidup yang dianut Try dalam karier profesionalnya.

Kehidupan pribadi yang stabil membantu Try menjalani berbagai tekanan jabatan publik. Dukungan keluarga menjadi fondasi yang memperkuat kiprahnya di militer dan pemerintahan. Keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga menjadi teladan bagi banyak orang.

Warisan dan Penghormatan Terhadap Try Sutrisno

Try Sutrisno tutup usia pada 90 tahun, meninggalkan warisan panjang di militer dan pemerintahan. Jejak kariernya tetap dikenang baik oleh masyarakat maupun institusi militer. Dedikasi dan integritas menjadi ciri khas yang diingat banyak pihak.

Selain prestasi formal, Try juga dikenang sebagai sosok dekat dengan masyarakat. Ia dikenal sederhana, tegas, dan memiliki empati tinggi. Kepemimpinan dan keteladanannya tetap menjadi inspirasi generasi penerus.

Pengabdian Try Sutrisno membuktikan bagaimana karier militer dapat menjadi jalan untuk berkontribusi pada bangsa. Warisannya tetap hidup melalui nilai disiplin, dedikasi, dan pelayanan publik. Sosoknya menjadi bagian penting sejarah Indonesia modern.

Terkini