Bulog Tulungagung Optimistis Serap Gabah dan Jagung Petani Secara Maksimal

Senin, 02 Maret 2026 | 09:36:35 WIB
Bulog Tulungagung Optimistis Serap Gabah dan Jagung Petani Secara Maksimal

JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus digencarkan melalui peningkatan serapan hasil panen petani. 

Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas stok sekaligus mendukung program swasembada pangan. Di Tulungagung, strategi tersebut dijalankan secara aktif dengan memperluas penyerapan gabah dan jagung pipil dari petani.

Perum Bulog Cabang Tulungagung, Jawa Timur menggencarkan penyerapan gabah dan jagung pipil dari petani guna mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional. Kebijakan ini dilakukan seiring peningkatan target serapan pada tahun 2026. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi potensi daerah sentra produksi padi dan jagung.

Pemimpin Bulog Cabang Tulungagung Yonas Haryadi Kurniawan mengatakan tahun ini pihaknya ditargetkan menyerap 64 ribu ton gabah setara beras dan 11 ribu ton jagung pipil. 

Target tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan perencanaan matang, Bulog optimistis realisasi dapat berjalan sesuai sasaran.

Target tersebut meningkat sekitar 52 persen dibanding 2025 yang sebesar 42 ribu ton gabah setara beras. Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan terhadap kapasitas produksi petani di wilayah tersebut. Bulog melihat peluang besar untuk memaksimalkan serapan hasil panen tahun ini.

"Wilayah kerja kami berada di daerah sentra produksi padi dan jagung, sehingga kami optimistis target 2026 dapat tercapai," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan keyakinan Bulog terhadap potensi daerah. Dukungan petani dan kondisi panen menjadi faktor penting dalam pencapaian target.

Target Nasional dan Peran Daerah

Secara nasional, pada 2026 Bulog ditargetkan menyerap 4 juta ton gabah setara beras dan 1 juta ton jagung pipil. Target nasional tersebut menjadi acuan bagi seluruh kantor cabang di berbagai daerah. Kontribusi daerah sentra produksi seperti Tulungagung sangat menentukan keberhasilan program nasional.

Yonas menjelaskan hingga saat ini pihaknya telah menyerap sekitar 15 ribu ton gabah kering panen dan 5 ribu ton jagung pipil kering dari petani di Tulungagung. Capaian ini menunjukkan progres positif pada awal periode serapan. Realisasi tersebut diharapkan terus meningkat seiring musim panen berlangsung.

Penyerapan dilakukan melalui Tim Jemput Pangan yang turun langsung ke sentra produksi. Salah satu lokasi kegiatan berada di Desa Tanggulkundung Kecamatan Besuki. Strategi jemput langsung ini mempermudah petani dalam menjual hasil panennya.

Pendekatan aktif tersebut dinilai efektif dalam mempercepat proses transaksi. Petani tidak perlu khawatir mengenai distribusi hasil panen ke gudang Bulog. Dengan sistem ini, serapan dapat berjalan lebih efisien dan tepat waktu.

Standar Harga dan Kualitas Gabah

Gabah dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai ketentuan pemerintah. Pembelian dilakukan dengan syarat kualitas memenuhi standar yang telah ditetapkan. Ketentuan ini bertujuan menjaga mutu stok cadangan pangan nasional.

Syarat kualitas tersebut antara lain tidak dipanen terlalu muda dan tidak rusak akibat penyimpanan terlalu lama. Standar ini penting agar beras yang dihasilkan memiliki mutu baik. Dengan kualitas terjaga, cadangan pangan nasional dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Karena beras ini akan menjadi stok cadangan pangan nasional, kualitas harus benar-benar terjaga," katanya. Penegasan tersebut menunjukkan komitmen terhadap mutu produk. Kualitas menjadi prioritas utama selain kuantitas serapan.

Selain menjaga mutu, Bulog juga memastikan proses pembayaran berjalan lancar. Kepastian harga dan pembelian memberikan rasa aman bagi petani. Hal ini sekaligus mendorong semangat petani meningkatkan produksi.

Antisipasi Lonjakan Panen dan Kapasitas Gudang

Untuk mengantisipasi lonjakan hasil panen, Bulog Tulungagung menyiapkan gudang alternatif selain gudang induk. Langkah ini diambil guna memastikan tidak terjadi kendala kapasitas penyimpanan. Kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam kelancaran serapan.

Dengan tambahan gudang, risiko penumpukan hasil panen dapat diminimalkan. Bulog ingin memastikan seluruh gabah dan jagung yang memenuhi syarat dapat terserap optimal. Upaya ini juga mempercepat proses distribusi ke tahap berikutnya.

Menurut Yonas, capaian serapan tahun ini lebih baik dibanding periode yang sama pada 2025. Pada periode tersebut belum terdapat realisasi signifikan penyerapan gabah dan jagung. Perbandingan ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja pada 2026.

Perbaikan capaian tersebut menjadi indikator positif bagi program ketahanan pangan. Bulog melihat tren peningkatan partisipasi petani dalam menjual hasil panen ke lembaga tersebut. Sinergi yang baik antara petani dan Bulog menjadi kunci keberhasilan.

Optimisme Dukung Swasembada Berkelanjutan

Dengan langkah tersebut, Bulog Tulungagung optimistis dapat memenuhi target serapan tahun ini. Upaya maksimal dilakukan agar kontribusi daerah selaras dengan target nasional. Ketahanan pangan berkelanjutan menjadi tujuan utama dari kebijakan ini.

Program serapan gabah dan jagung tidak hanya berdampak pada ketersediaan stok. Kebijakan ini juga mendukung stabilitas harga di tingkat petani. Dengan harga yang jelas dan penyerapan optimal, kesejahteraan petani turut terjaga.

Melalui strategi jemput pangan, standar kualitas ketat, dan kesiapan gudang, Bulog Tulungagung menunjukkan komitmen kuat. Target yang meningkat menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kinerja. Optimisme tersebut diharapkan mampu mendukung ketersediaan cadangan pangan nasional secara berkelanjutan.

Terkini