JAKARTA - Keinginan untuk memiliki penghasilan sendiri sering hadir di benak banyak ibu rumah tangga.
Di satu sisi, mereka ingin tetap produktif dan berdaya secara ekonomi. Di sisi lain, peran mengasuh anak dan mengelola rumah tetap menjadi prioritas utama.
Dilema tersebut bukan hal baru dan dialami oleh banyak perempuan. Keinginan mandiri finansial kerap terasa rumit karena terbentur waktu dan tanggung jawab domestik. Kondisi ini membuat sebagian ibu merasa harus memilih salah satu peran.
Namun seiring waktu, pandangan itu mulai berubah. Kini semakin banyak ibu rumah tangga membuktikan bahwa penghasilan bisa diraih tanpa harus meninggalkan rumah. Rumah justru menjadi ruang awal untuk membangun kemandirian ekonomi.
Perubahan Pola Pikir Ibu Rumah Tangga
Perubahan ini tidak berangkat dari ambisi besar semata. Prosesnya tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Waktu luang setelah urusan rumah menjadi peluang untuk berkembang.
Para ibu mulai belajar mengatur waktu dengan lebih rapi. Mereka juga melatih diri untuk berkomunikasi lebih percaya diri dalam berbagai situasi. Perlahan, pemahaman tentang pengelolaan keuangan jangka panjang pun terbentuk.
Seiring proses tersebut, peran ibu rumah tangga ikut bergeser. Mereka tidak lagi hanya membantu ekonomi keluarga. Banyak di antaranya kini menjadi pengambil keputusan keuangan yang strategis.
Miss Cimory Awards dan Cerita Inspiratif
Gambaran perubahan tersebut tercermin dalam Miss Cimory Awards 2026. Ajang ini mengapresiasi lebih dari 460 ibu rumah tangga yang sepanjang 2025 berhasil membangun kemandirian finansial dari rumah. Para peserta datang dari latar belakang yang beragam.
Meski berbeda cerita, mereka memiliki kesamaan penting. Konsistensi dan keberanian untuk terus berkembang menjadi fondasi utama. Nilai inilah yang membawa mereka mencapai penghasilan mandiri.
Miss Cimory Awards bukan sekadar acara penghargaan. Ajang ini menjadi simbol bahwa peran ibu rumah tangga dalam ekonomi keluarga semakin diakui. Perubahan sosial ini tumbuh secara nyata.
Program Kemitraan yang Inklusif
Program Miss Cimory telah berjalan sejak 2013. Hingga kini, program tersebut menaungi lebih dari 10.000 ibu rumah tangga di 17 provinsi. Jaringannya terus berkembang seiring meningkatnya minat para ibu.
Sistem kemitraan yang ditawarkan bersifat sederhana dan inklusif. Tidak ada modal awal dan tidak memerlukan jaminan. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam menjalankan program ini.
Para ibu juga mendapatkan pendampingan rutin. Mereka berkumpul di Cimory Center yang kerap disebut sebagai rumah kedua. Di tempat ini, proses belajar dan bertumbuh berlangsung bersama.
Rutinitas yang Membentuk Mental Profesional
Salah satu rutinitas penting dalam program ini adalah Noon Ceremony. Sesi ini berlangsung setiap pukul 13.00 setelah urusan rumah dan sekolah anak selesai. Waktu tersebut dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan diri.
Dalam sesi ini, para ibu mempelajari banyak hal. Materinya mencakup komunikasi, kedisiplinan, literasi digital, dan pengelolaan keuangan keluarga. Fokusnya bukan sekadar berjualan, tetapi membangun mental ibu profesional.
Pendekatan ini membentuk cara pandang baru. Para ibu mulai melihat diri mereka sebagai pengelola ekonomi keluarga. Kepercayaan diri pun tumbuh seiring bertambahnya kemampuan.
Dampak Nyata bagi Keluarga
“Sejak awal, program ini bukan tentang jualan semata,” ujar Hendri Viarta.
“Kami percaya ibu rumah tangga adalah CFO keluarga—pengambil keputusan finansial yang paling dekat dengan kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Hasil dari pendekatan tersebut terlihat nyata. Banyak Miss Cimory kini memiliki penghasilan rata-rata setara UMR, bahkan melampauinya. Namun dampaknya tidak berhenti pada angka penghasilan.
Para ibu mulai berpikir lebih visioner. Penghasilan digunakan untuk dana pendidikan anak, tabungan kesehatan, dan jaminan hari tua. Sebagian bahkan mulai merintis usaha keluarga di lingkungan sekitar.
“Yang berubah bukan cuma penghasilan, tapi cara berpikir,” lanjut Hendri.
“Mereka tidak lagi sekadar mencari uang belanja, tapi sedang merancang masa depan,” katanya lagi.
Dampak jangka panjang pun mulai terasa. Pada 2025, tercatat 29 anak Miss Cimory berhasil lulus Sarjana. Capaian ini lahir dari fondasi ekonomi keluarga yang semakin stabil.
Lebih dari sekadar penghargaan, Miss Cimory Awards 2026 mencerminkan perubahan sosial yang luas. Ibu rumah tangga tampil sebagai penggerak ekonomi domestik dan distribusi produk bernutrisi. Kontribusi ini memperkuat ketahanan keluarga secara berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Hendri mengajak lebih banyak ibu rumah tangga untuk berani melangkah.
“Kami ingin setiap ibu di Indonesia punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, mandiri, dan visioner—demi masa depan keluarga mereka,” pungkasnya.
Bagi para ibu yang ingin memulai perjalanan serupa, kesempatan terbuka luas. Program ini memberi ruang belajar, bertumbuh, dan berdaya dari rumah. Langkah kecil hari ini bisa menjadi perubahan besar bagi keluarga.