Harga Batu Bara Global Menguat Didorong Permintaan Kuat dari Pasar Asia

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:30:25 WIB
Harga Batu Bara Global Menguat Didorong Permintaan Kuat dari Pasar Asia

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global menunjukkan kecenderungan menguat di tengah dinamika pasar energi internasional. 

Penguatan ini terutama ditopang oleh permintaan dan harga yang membaik di kawasan Asia. Kondisi tersebut menahan tekanan yang masih terjadi di pasar Eropa.

Pasar batu bara Asia menjadi penopang utama pergerakan positif harga. China dan Australia berperan penting dalam menjaga sentimen pasar tetap stabil. Di sisi lain, Eropa masih menghadapi tantangan akibat lonjakan stok dan biaya emisi.

Situasi ini mencerminkan perbedaan kondisi pasar antarwilayah. Permintaan Asia yang relatif solid mampu menyeimbangkan tekanan global. Hal tersebut membuat harga batu bara mayoritas bergerak menguat.

Pergerakan Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam

Harga batu bara Newcastle menunjukkan pergerakan yang beragam untuk kontrak awal tahun. Kontrak Januari 2026 tercatat melemah 0,6% ke level US$109,35 per ton. Sementara itu, kontrak Februari 2026 justru menguat 0,8% menjadi US$113 per ton.

Kontrak Maret 2026 di Newcastle juga mengalami kenaikan tipis. Harga tercatat naik 0,4% menjadi US$112,7 per ton. Pergerakan ini mencerminkan optimisme pasar jangka pendek.

Di Eropa, harga batu bara Rotterdam mengalami penguatan. Kontrak Januari 2026 meningkat US$0,9 menjadi US$98,75 per ton. Sedangkan Februari 2026 naik US$2,35 ke level US$99,35 per ton.

Kontrak Maret 2026 di Rotterdam juga mencatat kenaikan. Harga naik US$1,9 menjadi US$97,4 per ton. Meski demikian, tekanan struktural masih membayangi pasar Eropa.

Tekanan Stok dan Dinamika Energi Eropa

Pasar batu bara Eropa masih menghadapi tekanan signifikan. Indeks batu bara termal Eropa di pasar spot terkoreksi ke bawah level US$98 per ton. Kondisi ini dipicu lonjakan stok batu bara di terminal ARA.

Selain stok, kenaikan harga izin emisi CO₂ turut menekan harga. Biaya emisi yang meningkat membuat batu bara kurang kompetitif. Tekanan tersebut membatasi ruang penguatan harga.

Di sisi lain, harga gas dan listrik di Eropa justru mengalami penguatan. Gangguan pembangkit nuklir di Prancis mendorong kenaikan harga energi alternatif. Hal ini menciptakan dinamika yang kompleks di pasar energi.

Harga gas di hub TTF melonjak ke US$387,23 per 1.000 meter kubik. Kenaikan mingguan tercatat sebesar US$45,33. “Kenaikan ini dipicu prakiraan gelombang dingin ekstrem, penurunan cadangan gas, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik terhadap pasokan LNG.”

Persediaan gas bawah tanah Eropa turun menjadi 53%. Penurunan ini mencapai delapan poin persentase. Sementara itu, stok batu bara di terminal ARA naik menjadi 3,65 juta ton.

Dukungan Afrika Selatan dan Pasar China

Di Afrika Selatan, harga batu bara High-CV 6.000 mengalami kenaikan. Harga tercatat naik ke level US$90 per ton. Penguatan ini didorong aktivitas pasar spot yang meningkat.

Permintaan dari India turut menopang harga batu bara Afrika Selatan. Lonjakan harga sponge iron di India memperkuat ekspektasi permintaan. Kondisi ini memberi sentimen positif bagi pasar.

Sepanjang 2025, ekspor batu bara melalui Richards Bay Coal Terminal tumbuh 10% secara tahunan. Volume ekspor mencapai 57,07 juta ton. India menjadi pasar ekspor terbesar dengan volume lebih dari 28 juta ton.

Ekspor ke Eropa tercatat mendekati 5,55 juta ton. Peningkatan kinerja terminal ditopang perbaikan jaringan kereta api. Kapasitas angkut yang membaik memperlancar distribusi batu bara.

Di China, harga spot batu bara 5.500 NAR di pelabuhan Qinhuangdao menembus US$101,85 per ton. Pelaku pasar tetap optimistis secara moderat. Konsumen akhir diperkirakan kembali mengisi stok.

Optimisme ini dipicu potensi gelombang dingin baru. Selain itu, mendekatnya libur Tahun Baru Imlek turut berpengaruh. Permintaan musiman menjadi faktor pendukung harga.

Kondisi Indonesia dan Tantangan Logistik

Untuk Indonesia, harga batu bara juga menunjukkan penguatan. Indeks batu bara 5.900 GAR naik melampaui US$81 per ton. Sementara itu, harga 4.200 GAR meningkat ke US$46,5 per ton.

Kenaikan harga dipicu penguatan pasar China. Selain itu, gangguan logistik akibat musim hujan turut berperan. Produksi di Kalimantan menjadi lebih menantang.

Perusahaan tambang di Sumatra Selatan masih menghadapi pembatasan pengangkutan. Jalur Sungai Lalan dan akses darat mengalami pembatasan operasional. Kebijakan larangan angkutan batu bara memengaruhi produksi regional.

Larangan tersebut berpotensi mengganggu lebih dari 6 juta ton produksi per bulan. Dampaknya dirasakan puluhan perusahaan tambang. Wilayah ini menyumbang sekitar 65% output regional.

Pemerintah daerah telah membentuk tim kerja khusus. Tim ini menilai kesiapan infrastruktur batu bara. Opsi pemberian pengecualian bagi produsen tertentu sedang dipertimbangkan.

Industri berharap adanya relaksasi kebijakan. Relaksasi diharapkan dapat berlaku mulai Februari. Langkah ini dinilai penting untuk meredam gangguan logistik.

Australia dan Prospek Harga Batu Bara

Di Australia, harga batu bara High-CV 6.000 kembali menguat. Harga tercatat naik ke atas US$109 per ton. Permintaan Asia menjadi penopang utama penguatan ini. Pasokan dari Australia terbatas akibat cuaca buruk. Penghentian pengapalan terjadi di pelabuhan Queensland. Gangguan ini dipicu dampak siklon dan hujan lebat.

Gangguan pengapalan diperkirakan bersifat sementara. Namun, dampaknya cukup signifikan terhadap pasokan jangka pendek. Hal ini memberi dorongan pada harga spot.

Untuk jangka menengah, prospek harga cenderung melemah. Hal tersebut tercermin dari kurva forward yang relatif datar. Pasar masih menunggu kejelasan pasokan.

Sementara itu, harga batu bara metalurgi hard coking coal melonjak. Indeks tercatat menembus US$230 per ton. Permintaan melampaui pasokan akibat gangguan produksi.

Banjir akibat hujan lebat menghambat aktivitas tambang. Sejumlah pemasok menyatakan kondisi force majeure. Produsen lain diperkirakan akan mengikuti langkah serupa.

Secara keseluruhan, harga batu bara global mayoritas bergerak menguat. Dukungan Asia mampu menahan tekanan dari Eropa. Dinamika cuaca dan logistik menjadi faktor kunci pergerakan harga.

Terkini